Rabu, 08 Februari 2017

Launching Buku AHY: Telah Kupilih Jalan Hidupku yang Baru Untuk Jakarta


Bloggerien.com

Seberapa kenal saya dengan seorang Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ?

Sedikit. Sangat sedikit. Hanya sebatas tahu AHY adalah putra mantan presiden, mantan prajurit, dan suami dari Anisa Pohan (seorang artis). Itu saja, tak lebih.

Hingar bingar pilkada DKI Jakarta belakangan ini membuat AHY banyak muncul di berbagai media. Saya melihatnya, dan sekedar melihat. Saya mendengarnya, dan sekedar mendengar. Kenapa? Tentu saja karena saya bukan warga DKI Jakarta. Saya tidak ada urusan dengan pilkada di daerah tempatnya mencalonkan diri. Saya tidak punya kepentingan. Meski begitu, ada rasa penasaran, siapa sih dia?



“Laki-laki muda itu, kenapa dia berhenti jadi prajurit untuk sebuah cita-cita lain yang lebih berat?”

Pertanyaan sederhana yang menggelayut dalam benak tiap kali saya dihadapkan pada pemberitaan tentangnya. Sebenarnya lebih pada keheranan ala wanita, yang mengagumi sosok prajurit, baik dalam dunia film maupun nyata, sedari dulu. Sederhana sekali, bukan? 

Tapi saya punya latar belakang atas rasa kagum itu. Dulu pernah lama dikelilingi sosok abdi negara seperti polisi (keluarga dari bapak) dan tentara (keluarga dari bapak mertua). Dari sana rasa kagum itu tumbuh. Pun pada AHY si mantan prajurit yang kebetulan sekarang sedang banyak diperbincangkan karena manjadi calon orang nomor satu di DKI Jakarta. 



Sebuah buku berjudul: “Telah Kupilih Jalan Hidupku yang Baru Untuk Jakarta” baru saja dilaunching pada hari Selasa tanggal 7 Februari 2017, dua hari yang lalu. Saya hadir bersama beberapa rekan blogger. Rasa penasaranlah yang menggerakkan kaki saya untuk datang.

Seperti apa sih bukunya?

“Ini buku sederhana yang ditulis dengan gaya bertutur..…” ucap AHY di tengah acara launching. 

Dari ulasan yang saya dengar (saya belum baca bukunya secara utuh ya. Baru buka prolog saja), saya mendapatkan gambaran bahwa buku yang terdiri dari 24 bab ini mengungkap banyak hal tentang AHY dengan sangat detail namun penuh pesan moral.

Beberapa bab diulas secara langsung oleh AHY. Beberapa kalimat penuh inspirasi yang diucapkannya membekas dalam benak saya.

“Saya memiliki mimpi besar, seorang pekerja keras, dan pantang menyerah.”

“Kita tetap bermental kuda hitam. Bahkan jika kita diremehkan, malah bagus. Please undermine me. Saya suka berjuang. [Hal. 60 Bab 5 Menjadi Kuda Hitam]
 

“Saya juga mengenal diri saya sebagai pribadi yang kompetitif, senang untuk bersaing sehat serta membiasakan memiliki fighting spirit untuk mengatasi berbagai tantangan yang mengadang. Berdasarkan pengalaman pribadi saya berprinsip, tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau dan sungguh-sungguh mengupayakan, tentunya atas seizin Allah. [Hal. 72 Bab 6: Semangat Harus Bisa]

“Keputusan sudah saya ambil, dengan kesadaran penuh akan segala konsekuensinya. Saya tidak menyesal. Saya tidak akan mundur. Saya akan sungguh-sungguh menjalani keputusan ini dengan segala risikonya.” 




“Kalau belum bisa membahagiakan, minimal jangan membuat rakyat menangis,” ujar AHY.

“Tempat terbaik seorang pemimpin adalah bersama rakyatnya, dalam suka dan duka.”

“Saya ingin selalu menata hati, pikiran dan belajar serta berbuat lebih baik dari hari ke hari, tanpa harus kehilangan karakter dan jati diri.”

Kutipan-kutipan dari ucapan AHY tersebut membuat buku ini jadi makin menarik, inspiratif, dan menyentuh. Bagi saya pribadi, semakin saya baca buku ini, semakin saya tahu bahwa selama ini saya tidak kenal siapa AHY. Pengetahuan saya tentangnya ternyata begitu minim. 

Helvy Triana Rosa dan Asma Nadia hadir di acara launching

Buku yang bagus untuk dibaca. Banyak pelajaran positif yang bisa dipetik sekaligus dijadikan renungan untuk kehidupan yang lebih baik. Membaca pengalaman hidup AHY, seperti menghadirkan semangat dalam diri untuk terus maju menyosong masa depan yang lebih baik, dan pantang menyerah dalam menggapai cita-cita.

Buku ini diawali dengan prolog “Ketika Panggilan Tugas Itu Datang.” Kemudian dilanjut dari bab ke bab: Menjadi Jenderal adalah Mimpi Setiap Taruna, Pengabdianku di Dunia Militer, Setiap Masa Ada Pemimpinnya, Hempasan Badai pada Hari Pertama, Menjadi Kuda Hitam, Semangat Harus Bisa, Gerilya: Si Kecil Melawan Si Besar, Fast Learning by Doing, dan seterusnya sampai bab 24.

Tak dapat dipungkiri, membaca buku ini mempertemukan saya pada jawaban-jawaban yang saya cari. Bukan hanya atas pertanyaan yang telah lama mengendap dalam benak, tapi juga pertanyaan yang masih berupa bibit-bibit kecil. 

Tidak percuma datang ke acara launching. Saya bisa menuntaskan rasa penasaran, sekaligus bertemu langsung dengan sosok AHY dan istrinya Annisa Pohan.


Saya sempat merasa heran sekaligus kagum, di tengah kesibukan bergerilya di lapangan, AHY masih sempat menuturkan tentang dirinya dalam sebuah buku. Tentu bukan hal yang mudah ya. Saya membayangkan diri saya sendiri yang sehari-harinya hanya disibukkan dengan urusan rumah tangga yang ringan-ringan saja tapi seringkali masih tidak punya waktu untuk menulis blog. Bagaimana dengan AHY yang kesibukannya begitu padat? Perlu kosentrasi tinggi buat merangkai kata, bukan?

“Menulislah, maka kau akan abadi.”

Apapun itu, saya suka AHY menulis tentang dirinya di buku. Menulis hal baik, bukan kebencian. Sejatinya yang ditulis itu memang sesuatu yang bermanfaat, menginspirasi, dan mengajak pada hal positif. 




Acara launching buku diselenggarakan di Command Centre Agus Silvy di daerah Fatmawati mulai pukul 14.00 - 16.00 WIB. Dihadiri oleh berbagai media, baik cetak, online, maupun elektronik. Saya mewakili blogger bersama 4 rekan lainnya. Acara berjalan santai. Diawali dengan makan siang di lantai 2 yang sepertinya memang diperuntukkan sebagai area makan dan minum karena memang didesain seperti kafe/resto. Setelah menunggu sekitar 15 menit, AHY datang dan acara langsung dimulai. Diisi dengan ulasan isi buku oleh AHY, tanda tangan, sesi interview, dan foto bersama dengan awak media.

Terima kasih bukunya. Sukses selalu buat Mas Agus!



"Saya akan terus melangkah meniti jalan yang baru ini.”

Ok, teruslah melangkah AHY!

Judul: Telah Kupilih Jalan Hidupku yang Baru Untuk Jakarta
Agus Harimurti Yudhoyono
282 Halaman

Penerbit Expose (PT Mizan Publika)
Cetakan ke-1 Februari 2017 





3 komentar:

  1. Semangatnya AHY perlu di contoh nich. Senang dengan gaya dan semangatnya

    BalasHapus
  2. Aku menikmati gaya reportasenya Mbk Katerina, mengalir dan bikin penasaran hingga kalimat akhir. Kece, ikut penasaran bukunya Mas Agus #eaa

    BalasHapus
  3. Iri dengan semangat menulisnya, patut ditiru!

    BalasHapus