Senin, 14 Maret 2016

Tak Cukup Kata Untuk Dian Radiata


Sosoknya bersahaja, tapi pengalamannya dalam tulis menulis sudah terbilang kaya. Saat bersua langsung, ternyata pembawaannya tak jauh beda dengan caranya berinteraksi di sosial media. Kalem, bicara seperlunya, namun tanpa menanggalkan kesan bersahabat.

Yang agak beda, banyolan dan kelucuan yang begitu lentur di sosmed, kurang terlihat di dunia nyata. Tapi saya tidak heran, karena saya pun kadang demikian. Bukan karena jaim, tapi karena rasa dan kata kadang-kadang lebih leluasa dan mudah untuk diungkapkan dalam dunia abjad (tulisan).

Teman beda kota dan beda pulau ini merupakan salah satu sosok yang pernah menginspirasi saya dalam dunia tulis menulis, khususnya yang berkaitan dengan traveling. Jujur, saat saya tahu blog Multiply-nya itu lebih banyak berisi tentang kegiatan traveling, saya pun jadi ingin mengikutinya. Saya punya hobi yang sama dengannya, yaitu traveling, writing, dan blogging. Lalu, kenapa tidak fokus sepertinya?

Saat dunia Multiply sedang gonjang-ganjing mau tutup pintu, saya mulai memindahkan isi blog ke Blogspot. Yang saya pindahkan hanya blog tentang traveling. Sedikit banyak, saat itu mbak Dian berperan dalam membuat saya menentukan pilihan menjadi seorang travel blogger.

Buku antologi pertamaku bersama mbak Dian


Love Journey #2, antologi kedua bersama mbak Dian

Saya tidak ingat kapan tepatnya pertama kali mengenalnya. Dulu di Multiply saya mulai kenal namanya sejak dinyatakan menang lomba oleh sebuah penerbit buku. Dalam lomba tersebut, isi blognya dibukukan oleh si penerbit. Judulnya : A Thousand Miles Jorney Begin with The First Step. Nah, buku itulah yang kemudian mengantarkan saya untuk mengenal blog dan namanya lebih jauh.

Proyek buku antologi Love Journey; Ada Cinta di Tiap Perjalanan menjadi titik awal kedekatan saya dengannya. Perempuan penggemar warna hitam yang saya kenal pertama kali di Multiply ini merupakan kawan akrab Lalu Abdul Fatah, yang juga merupakan teman ngeblog di Multiply.

Buku Love Journey #1 membuat kami banyak berinteraksi. Interaksi yang kemudian berbuah sukacita, karena proyek buku itu berjalan lancar. Kesuksesan mbak Dian dan Fatah membidani Love Journey berlanjut ke serial kedua Love Journey #2; Mengeja Seribu Wajah Indonesia. Saya pun kembali bergabung dalam buku kedua tersebut. Berkat kedua buku inilah saya mengenal banyak nama beken di dunia travel writer, sebut saja Agustinus Wibowo dan Adies Takdos. Masih ada nama-nama lainnya. Bisa merasakan 1 buku dengan travel writer kondang itu rasanya luar biasa.  

Pertama kali jumpa dan jalan bareng mbak Dian di Semarang, Agustus 2015

Jalinan pertemanan dengan mbak Dian berjalan mulus dan tulus. Alhamdulillah. Saya katakan tulus karena memang demikian adanya. Bukan tulus sekedar dalam kata-kata, tapi dalam rasa.

Berteman tidak berarti ‘iya-iya’ saja dengan apa yang dilakukan teman, namun justru tetap ada ‘nggak-nggak’ pada hal-hal tertentu. Dalam hal ini, tingkat kedewasaan dan karakter seseorang memang berperan, dan itu yang saya rasakan selama berteman dengan mbak Dian. Dia dewasa dan bijaksana. Saat suka bicara secukupnya, saat keliru menegur dengan baik tanpa disertai prasangka. Mungkin itulah yang membuat persahabatan jadi langgeng.

Saya mengenalnya memang sebagai travel writer dan travel blogger. Tapi di luar itu saya juga tahu mbak Dian adalah sebagai seorang ibu, istri, karyawan, dan juga relawan kelas inspirasi. Dia juga sahabat yang mau mendengar dengan baik. Mendengar tanpa terburu-buru menilai.

Saya pikir, secara keseluruhan mbak Dian ini memang sarat inspirasi. Sebagai wanita yang pernah nyantri di sebuah pesantren terkenal di Jawa, ia agamis dan punya ilmu yang mumpuni. Tak perlu saya sebutkan secara detail tentang hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan agamanya, cukup dirasa bahwa latar belakang pendidikannya itulah yang membuatnya memang enak dan nyaman untuk dirangkul sebagai kawan baik.

Menjadi teman ngeblognya adalah sebuah kebahagiaan. Punya hobi yang sama, saling menyemangati, saling belajar, saling memotivasi. Dan yang penting, ia memberi manfaat lewat blog dan akun-akun sosmednya.

Kalau kalian rajin menyimak akun sosial medianya, ia jauh dari sosok yang gemar mengumbar kata-kata tak ada gunanya yang bernada sinis, mencela, memancing keributan, nyinyir, menyindir, dan segala rupa kata negatif yang tak mencerminkan sosok inspiratif.
 
Mbak Dian dan suaminya, Mas Anang.


Siapa Dian bagiku?

Sosok traveler yang matang karena pengalaman travelingnya.

Tak cukup kata bercerita tentang Dian Radiata. Karena itu, jika ingin mengenalnya lebih jauh, mampirlah ke sini:
Blog : www.adventurose.com
Twitter @Dieend18
Instagram @adventurose

12 komentar:

  1. Meleleh baca tulisan sepenuh hatimu mba rien... Iya, mba Dee lebih banyak mewakilkan katanya pada abjad.. Senang mengenalmu berdua.. Semoga langgeng pertemanannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Ima.. Aku pun seneng banget bisa kenal mbak Ima. Senyum manis dan gayanya kalo selfie itu loooh lekaaat banget di benak :)
      Semoga pertemanan kita semua langgeng ya mbak :)

      Hapus
    2. Senang mengenal mbak Dian. Senang juga kenal mbak Ima. Kalian teman-teman baik yang selalu bisa menginspirasi dan memotivasi :)

      Hapus
  2. Mbak Rieeeeeen..... Sumpah! Aku melting baca tulisan ini... Tulisan dari hati nyampenya juga pasti ke hati ya :) Seneeeeng banget bisa kenal dan temenan ama mbak Rien. Makasih untuk semua ya mbaaaak.... :* :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga berkenan dengan tulisan ini ya mbak. Terima kasih juga sudah senang dengan tulisan ini.

      Tak cukup kata untuk menguraikan tentang diri mbak Dian. Pokoknya aku bahagia bisa kenal mbak Dian. Senang tiap hari bisa jadi teman bincang di grup JJS. Berbagi cerita dan kata :)

      Hapus
  3. Dia sosok gendut menggemaskan, makannya banyak, perutnya buncit, senyumnya menawan.... mungkin itu yang dituliskan mbak Rien tentang aku ya muahahahahaha.

    Mbak Deee, mana janjimuuuh untuk bersua denganku di kota pempek? abang kan kangen sama adek lala. Eaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha....ayo ikut arisan biar nanti aku tuliskan banyak hal tentangmu Cek Yan :D

      Hapus
  4. Semoga bisa bertemu dengan mbak Dian Radiata di dunia nyata...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Mas Yo pasti senang kenal mbak Dian :)

      Hapus
  5. Wahhh Mbak Dian dan Mbak Rien Travel Blogger yang keren-keren. Tetap menginspirasi ya, Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku jadikan doa ya Lia. Aamiin...moga keren semua. Terima kasih Lia :)

      Hapus
  6. Yang agak beda, banyolan dan kelucuan yang begitu lentur di sosmed, kurang terlihat di dunia nyata. Tapi saya tidak heran, karena saya pun kadang demikian. Bukan karena jaim, tapi karena rasa dan kata kadang-kadang lebih leluasa dan mudah untuk diungkapkan dalam dunia abjad (tulisan). ---->> Aku suka bagian ini sebab aku pun juga demikian, maklum aku kan aslinya pemalu yang lebih nyaman berekspresi lewat tulisan :P

    BalasHapus