Jumat, 30 Oktober 2015

Novel dan Film Moga Bunda Disayang Allah

Versi Novel dan Versi Film 

Novel Moga Bunda Disayang Allah (MBDA) karya Tere Liye ini aku beli di Islamic Book Fair (IBF) Senayan pada 7 Maret 2009 (sesuai tanggal yang ditulis oleh Tere Liye di bukuku itu). Belinya bareng dengan novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu (RTDW) yang baru rilis pada hari itu. Acara rilisnya juga di lokasi IBF.




Novel RTDW dan MBDA aku beli di stan penerbit Republika. Di acara launching, kedua buku itu aku bawa. Berharap di sesi sign book aku bisa minta tanda tangan penulisnya. Dan benar saja, di akhir acara, ketika para peserta launching yang hadir mulai antri tanda tangan, aku juga ikutan. Seneng deh dapat tanda tangan :D


Tanda tangan penulisnya, Tere Liye.
"Buat Ririn, Tere Liye, IBF, 07-03-2009"

4 tahun kemudian, tepatnya 12 Agustus 2013 kemarin, novel MBDA yang pernah aku beli dan baca itu, aku tonton dalam versi film. Tapi, jujur kuakui sebenarnya aku sudah lupa akan isi cerita MBDA dalam versi novel. Tak satupun ada bagian cerita yang bisa kuingat. Meskipun begitu, aku tak berkeinginan untuk membaca ulang novelnya. Kubiarkan ingatanku blank. Tak ingin imajinasiku saat menonton rusak oleh cerita versi buku. Because the way a book presents things can be totally diferent than the way a movie presents things.

Jadi, aku nonton film MBDA benar-benar seperti menonton cerita yang benar-benar baru. Setelah nonton, baru kubuka-buka lagi novelnya. Dan menurutku, this movie totally different from the book

TERE LIYE
Selamat buat Tere Liye. Ini film ketiga yang diangkat dari novel-novelnya. Sebelum MBDA difilmkan oleh Soraya Intercine Films pada 2013 ini, novel-novelnya yang lain juga pernah difilmkan oleh Starvision: Hafalan Shalat Delisa (HSD, 2011), dan Bidadari Bidadari Surga (2012). Tiap tahun 1 novel difilmkan. Hmm...tahun depan kira-kira novel mana lagi ya yang akan difilmkan?

Suasana rilis novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu di IBF Maret 2009
Ada Ratih Sang yang jadi moderator di acara peluncuran buku RTDW ini


Film Moga Bunda Disayang Allah :
  • Sutradara : Jose Purnomo
  • Produser : Rocky Soraya, Ram Soraya
  • Penulis Naskah : Riheam Junianti, Tere Liye
  • Pemain : Fedi Nuril, Shandy Aulia, Chantika Zahra, Alya Rohali, Donny Damara, Iang Darmawan
  • Genre : Drama
  • Tanggal Rilis Perdana : 02 Agustus 2013 
  • Studio : Soraya Intercine Films



Sinopsis:
Moga Bunda Disayang Allah berkisah tentang pemuda bernama Karang (Fedi Nuril) yang sangat menyukai anak-anak. Sebuah insiden kecelakaan kapal laut merubah kehidupannya saat dia tak dapat menyelematkan anak-anak yang bersamanya kala itu.

Karang trauma dan dihantui perasaan bersalah. Dia memutuskan menjauhi anak-anak dan mengakhiri hubungannya dengan Kinarsih (Shandy Aulia) kekasihnya karena merasa tak pantas untuknya. Dia pun mengasingkan diri ke pulau terpencil jauh dari keramaian ibukota dan menjadi seorang pemabuk.

Kehidupannya berubah saat Bunda HK (Alya Rohali), perempuan kaya dan sangat dihormati di utrid itu dan memintanya untuk menjadi guru bagi Melati (Chantika Zahra). Melati adalah utrid mereka yang buta, bisu, dan tuli. Karena itu Melati tidak dapat berkomunikasi dengan sekitarnya.

Karena sering dipengaruhi oleh minuman keras, cara mengajar Karang jadi kasar dan sering membentak Melati sehingga Melati menjadi bingung dan ketakutan.Namun lambat laun, Karang dan Melati semakin saling membutuhkan.  *Copas dari Rajasinopsis. Aku males ngarang review hihihi




Memorable Scenes !!!Hati-hati spoiler!!!
Adegan paling berkesan, sekaligus klimaks film MBDA ini menurutku terletak pada adegan ketika Melati (Chantika Zahra) berhasil mengucap kata air untuk pertama kalinya setelah 3 tahun jadi anak difable. Moment yang berhasil membuat air mataku menetes itu terjadi di taman rumah Melati, saat hujan lebat mengguyur bumi. 

Sebelumnya, lewat air (hujan) juga, Karang seperti mendapat ilham. Ia berubah pikiran dan bertekat kuat untuk kembali mengajar Melati. Saat itu juga ia pergi ke rumah Melati. Dan tak disangka, Karang melihat Melati sedang di luar rumah, di bawah guyuran hujan. Dari sinilah adegan puncak itu dimulai. Pak HK (Donni Damara) dan Bunda HK (Alya Rohali) yang tadinya ingin marah atas kehadiran Karang, justru berubah. Terperangah melihat apa yang terjadi pada Melati. Mereka bertangisan. Tangis gembira. Tangis bahagia.



Wisata Pantai
Ok, berhubung aku bukan tukang review, jadi tulisan ini akan mengulas hal-hal sesukaku. Maksudku, aku ingin menyoroti hal lain, perihal lokasi syuting film MBDA.

Sejak opening sebenarnya aku sudah berbinar-binar melihat kapal, laut dan pantai. Pikirku, wah keren nih film. Tentang laut. Tempat kesukaanku. Film petualangankah? *ngaco.

 Adegan di Jembatan Cinta, Pulau Tidung - Jakarta

Opening film menampakkan Jembatan Cinta di Pulau Tidung. Aku mengenali jembatan itu sebagai Jembatan Cinta karena aku pernah ke sana (bisa dilihat dalam beberapa tulisanku yang mengulas tentang Pulau Tidung). Di film, Jembatan Cinta di set seolah sebuah dermaga. Tempat Karang berpisah dengan Kinarsih. Meninggalkan pulau untuk berwisata dengan 18 anak asuhnya.

Museum Fatahillah di Kota Tua Batavia muncul 2 kali. Pertama di bagian belakang Museum dan kedua di bagian depan museum. Bangunan tua dan bersejarah itu terlihat unik dalam film.

Adegan terapung di laut saat kapal wisata yang ditumpangi Karang bersama 18 anak asuhnya tenggelam, bertempat di Kolam Ombak Ancol. Nah, buat yang ingin coba berenang sambil uji kemampuan melawan ombak, monggo ke Ancol. Selain Ancol, kolam ombak juga ada di Ocean Park BSD (dekat rumahku). Sama bagusnya dan sama serunya. Yang mau coba, ayo datang ke BSD *promosi BSD sepanjang masa :))


 Kolam Ombak Ancol (sumber: Travel Kompas)

Lokasi wisata lainnya yang cukup sering muncul di film adalah BeachClub Tanjung Lesung Banten. Itu lho, tempat Karang biasa datang untuk menenggak minuman keras. Letaknya di tepi pantai, di sebuah pondok kayu terbuka beratap rumbia dengan bangku dan meja-meja kayu. Pondok ini tempat pengunjung duduk sambil makan dan minum. Di film, tampilannya dibuat seolah sebuah bar outdoor. Banyak miras di meja dan rak. Padahal aslinya ga gitu.

Aku tahu karena aku pernah ke sana. Bukan buat minum miras sih, tapi untuk minum teh botol dan semangkuk bakso hehehe. Beberapa adegan juga di ambil di sekitar pantai Tanjung Lesung.

Tempat favorit Karang minum miras [foto dari film MBDA]


 Meja panjang (yang ada 4 perempuan sedang berdiri) dengan cat warna biru itu yang disulap jadi tempat Karang memesan miras [fotoku]


 Beach club Tanjung Lesung 
[fotoku]

 Karang mabok di pantai [foto dari film MBDA]


 Ini sisi lain pantai tempat syuting (fotoku)
 
Oke, aku suka film ini karena wisata baharinya ikut menjadi bagian cerita Aku ngomong gini karena aku penggemar wisata bahari :D Walaupun tiada satupun dialog yang menyebutkan nama-nama tempat wisata itu, setidaknya film ini sudah menampakkan beberapa tempat wisata di Jakarta dan Banten. Usulku sih, next time kalo bisa nama lokasinya disebut. Atau paling tidak di shoot sign board atau plang apa kek gitu, biar ada kelihatan di film. Walaupun sekilas tapi lumayan buat promosi.


Memorable Quotes
“Ada cara agar dia (Melati) bisa mengenal Allah. Mengenal Sang Pencipta yang telah menciptakan dia dengan segala keterbatasan.”
Ini ucapan Karang saat meyakinkan Tuan dan Nyonya HK dirinya mampu ‘memperbaiki’ Melati.

“Paradok itu lucu, menjijikkan, dan kadang diluar apa yang kira pikirkan.”
Ini ucapan Karang kepada Tuan HK yang tidak terima atas pengajaran Karang yang begitu “keras”kepada Melati.

“20 tahun kemudian, kamu akan menyesal atas apa yang tidak kamu lakukan daripada apa yang telah kamu lakukan, sekalipun yang kamu lakukan itu salah.”
Ucapan ibu asuh Karang (Maya Wulan) kepada Karang karena Karang tetap teguh pendirian untuk tidak datang melihat kondisi Melati.

“Mencintai anak-anak itu bukan karena wajah mereka menggemaskan, tapi karena kamu percaya bahwa masa depan yang lebih baik akan tergenggam di tangan mereka.” Ini ucapan Kinarsih kepada Karang, karena Karang putus asa atas ketidakberhasilannya mengajar Melati.

“Kalau kamu mau melawan takdir Melati, kamu harus melawan takdir kamu dulu.”
Ini ucapan Kinarsih pada Karang yang kesal pada Karang karena masih saja menyimpan perasaan bersalah atas kecelakaan kapal yang menyebabkan 18 anak asuknya meninggal. Perasaan bersalah berkepanjangan yang membuatnya menjadi terpuruk dan pemabuk. 

Kinarsih sedang menasehati Karang

Yang berikut ini bukan termasuk quote, tapi aku suka mengingatnya :D

“Tidak ada lagi kita, tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi tanda cinta dan tidak ada lagi aku yang tidak ada pantas-pantasnya buat kamu.”

Hehe..aku tahu, seseorang yang terlibat pada rasa penyesalan yang panjang, pada rasa bersalah berkepanjangan, biasanya jadi merasa serba ga pantas untuk pasangannya. Memutuskan hubungan jadi perkara yang mudah untuk dilakukannya :D


Jadi ingat pada...
Jadi ingat film Titanic saat melihat kapal wisata yang ditumpangi Karang melaju di tengah lautan biru nan luas. Bentuk kapalnya sih ga mirip, cuma sama-sama kapal wisata aja. Bedanya Titanic kapal pesiar besar dan mewah, di MBDA kapalnya kapal wisata biasa :D Syuting dari atas (pake helikopter pastinya ya), bikin gambarnya "megah". 

Dari ketinggian, dari arah yang cukup jauh, bisa kelihatan Karang dan Intan (anak asuh Karang) sedang berdiri di ujung haluan (ada juga shoot jarak dekatnya, saat Karang mengajak Intan masuk kapal). Itu adalah senja terakhir sebelum Intan meninggal kedinginan dalam keadaan terapung di laut. Seperti Jack dan Rose di film Titanic. Berdiri berdua di haluan, menentang angin, di bawah langit senja yang kemerahan. Senja terakhir sebelum Jack mati kedinginan dan tenggelam ke dasar samudera.



Jadi ingat film Life of Pie saat melihat adegan kapal yang ditumpangi Karang dihantam ombak. Diguyur hujan deras. Di hempas angin. Karang yang berlarian ke atas, terhempas dan terpelanting, mengingatkanku pada adegan Pie saat naik ke atas kapal untuk memeriksa keadaan. Adegan panik dan cemasnya sama. Badan Karang yang tinggi dan kurus itu juga mirip Pie hehe


Gambar dari Moviefreak

Terkesan pada....
Akting Chantika Zahra yang memerankan Melati bagus banget menurutku. Kalo ga baca-baca tentang dirinya di berbagai sumber, kukira anak ini memang difabel beneran. Akting histerisnya apik bener.



Akting Alya Rohali sebagai sosok ibu yang sabar, istri yang bijak. Juga sebagai perempuan yang tampil anggun dan dewasa, cocok banget. Kalo misal diperankan oleh Nirina Zubir, duh...mungkin pas adegan kilmaksnya air mataku ga bakal netes kayaknya. Ya maklum juga sih, Alya kan mantan Putri Indonesia ya. Selain smart, penampilannya juga memang menunjang untuk perannya di film ini.



Fedi Nuril. Aktor film Ayat-Ayat Cinta dan film 5CM ini memang ga diragukan lagi aktingnya. Kepiawaiannya memainkan karakter Karang yang berubah drastis, dari seorang laki-laki penyayang menjadi laki-laki pemabuk, kasar dan sangat pemarah. Oh.....it's hard to do.

Menurut kabar, di film ini Fedi berakting tanpa stuntman. 12 jam main di air. Sampe  jatuh sakit katanya. Di opname 2 minggu di RS. Seperti yang Fedi bilang, beradegan di air itu ga semudah beradegan di gunung. Yang Fedi maksud itu perannya saat mendaki (mendaki sungguhan) gunung Semeru di film 5CM. Oke deh Fedi, salut untuk adegan under waternya. Aku salut karena aku tahu aksi berenang dan menyelam itu ga mudah.


Ohya, tadinya film ini mau aku kasih 3 dari 5 bintang. Berhubung 3 pemain itu total banget mainnya, jadi kukasih 4 bintang :D Buat yang ngefans sama Fedi Nuril, mungkin film ini bisa dapat 5 bintang hahaha


Ternyata...
  • Kontent film tak seriligi judulnya.
  • Fokus film tidak semata pada hubungan ibu dan anak, apalagi digambarkan dalam nuansa religi yang kental. Justru romansa antara Karang dan Kinarsih jauh lebih menonjol.
  • Proses kebangkitan Karang pun tidak dikemas dalam nuansa religi, misalnya dengan salat dan mengaji, melainkan dengan perubahan sikap dan transformasi fisik. Dari berpenampilan amburadul: berjenggot, berkumis, dan berambut gondrong, menjadi klimis dan rapi. Kebangkitan yang digambarkan dengan cara yang universal.
  • Dalam novel, Kinarsih dan Bunda HK digambarkan berjilbab. Di film tidak. 
  •  
 Jadi bertanya-tanya...
  • Perubahan yang dialami Melati terkesan kilat. Dia kan celaka di usia 3 tahun. Saat Karang mengajarinya mengenal benda-benda dengan menulis abjad ditangan Melati, usia Melati 6 tahun. Kok bisa mengerti abjad? Waktu usia 3 tahun memangnya melati sudah lancar baca tulis?
  • Melati kan tuna rungu, kok Karang mengajarinya segala sesuatu dengan berteriak? Bukannya Melati ga bisa dengar walau berteriak sekalipun?
  • Wig, jenggot, dan kumis yang dikenakan Karang kentara betul palsunya. Penata riasnya ga bisa bikin itu lebih natural kah?
  • Kapal wisata yang ditumpangi Karang berubah wujud :D Silahkan bedakan bentuk kapal bagian depan saat sebelum tenggelam dan saat terjadi kecelakaan, terutama saat Karang lari-lari di atas kapal, di tengah hempasan ombak (bisa lihat foto kapal di atas).
  • Melati itu celaka karena kepalanya terkena lemparan (apa ya nama bendanya?) dan tersungkur di atas batu. Akibatnya jadi buta, bisu dan tuli.  Mungkin banyak syaraf yang putus. Tapi yang terjadi pada Melati teramat luar biasa. Dia jadi tak terkendali, seperti orang kelainan jiwa. Makan seperti binatang (Karang menyebutnya begitu). Nah, masa ada orang buta tuli bisu sampai begitu? Sampai rusak panca indra dan jiwanya?
  • Saat kapal tenggelam, Karang yang pingsan karena terbentur, juga tenggelam. Kok tenggelam padahal disitu terlihat Karang sudah mengenakan life jacket?
  • Saat Karang tenggelam, badannya seakan sudah di dasar laut. Kemudian Karang sadar (sadar di dalam laut), lalu berenang meluncur ke permukaan. Nah, kok bisa Karang tenggelam ke dasar laut secepat itu? Kok bisa naik ke permukaan laut secepat itu? Memangnya lautnya dangkal? Kalo dangkal masa bisa dilalui kapal? 
  • Saat bus masuk sungai dan tenggelam, itu proses penyelamatan Melati terlihat aneh. Bus kan sudah tenggelam. Kenapa masih ada ruang udara? Kalaupun karena bus itu kedap air, toh saat dipecahkan kacanya oleh Karang, air kan bisa masuk dengan cepat. Padahal waktunya cukup lama karena dia lebih dulu menyelamatkan 7 orang lainnya. Melati belakangan. Bisa-bisanya masih ada ruang udara, padahal bus sudah di dasar sungai.
  •  Saat Melati dewasa mengucapkan terima kasih (di acara wisuda), yang dapat ucapan adalah bundanya. Lalu, apresiasi untuk Karang yang telah membuat perubahan pada hidupnya mana? Padahal Karang juga hadir saat itu.
Pertanyaan-pertanyaan di atas ga aku maksudkan untuk mengkritik. Sekedar mengungkapkan hal-hal yang mengganjal saja. Toh aku tetap merekomendasikan film ini untuk ditonton. 

Banyak muatan positif yang bisa dipetik dari film ini. Bagi siapa saja yang merasa sempurna hidupnya, bisa memetik pelajaran berharga dari mereka yang tidak sempurna hidupnya, yang tergambar di film ini. Sedang buatku pribadi, pesan untuk menjadi sabar dalam menerima takdir, pahit sekalipun, makjleb banget rasanya. Pun, pengingat yang baik sekali tentang kekuatan untuk bangkit dari kejadian buruk di masa lalu. Setiap orang pasti punya masa lalu, jatuh karenanya, terpuruk, dan segala ketidakberdayaan lainnya. Tapi, depresi, mabuk-mabukan, pesimis, merasa bersalah berkepanjangan, tidak akan membuat seseorang bangkit dari kejadian lampau. Justru, hidup ini harus terus dititi dengan manis, dihadapi dengan baik, agar dapat berlanjut dengan indah. Kita harus berani berubah, tetap optimis dengan masa depan. 

Film berdurasi 2 jam ini, kabarnya merupakan film termahal sepanjang filmographynya Jose Poernomo, sang sutradara. Bergenre drama tapi ada adegan actionnya segala. Dan itu menarik. Adegan kapal tenggelamnnya keren. Dari webblog rajasinopsis.com aku membaca, film ini menggunakan jenis kamera yang sama dengan yang digunakan di film Pirates Of Carribean dan Spiderman. Sang sutradarapun katanya mendapat bantuan khusus dari seorang ahli perfilman Holywood, Adam Howard, yang menangani adegan under water.

Seberapa bagus filmnya, silahkan saksikan langsung di bioskop. Jangan nonton DVD bajakan, jangan pula download film dari internet. Apresiatiflah terhadap karya para sineas dengan cara yang tidak melanggar hukum. Hargai film produksi dalam negeri ^_^





*13/08/2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar